Masalah yang Sering Terjadi pada Brand Skincare Baru
Banyak brand skincare baru berpikir proses BPOM hanya berkaitan dengan keamanan formula. Selama bahan yang digunakan aman dan produk sudah melalui proses notifikasi, mereka menganggap semuanya selesai.
Di dunia bisnis skincare, kenyataannya sering berbeda.
Tidak sedikit produk yang sudah diproduksi dalam jumlah besar justru harus mengalami revisi sebelum benar-benar dipasarkan. Penyebabnya bukan karena kandungan produk, melainkan label pada kemasan yang belum mengikuti aturan BPOM.
Situasi ini sering membuat brand harus mengganti stiker, mencetak ulang kemasan, atau bahkan membuang kemasan yang sudah diproduksi.
Dari sini bisa dipahami bahwa kemasan skincare bukan hanya soal estetika. Kemasan juga merupakan bagian dari aspek legal sebuah produk kosmetik.
Mengapa Kemasan Menjadi Perhatian BPOM
Ketika seseorang membeli skincare, mereka tidak melihat dokumen laboratorium atau laporan uji stabilitas. Satu-satunya informasi yang bisa dibaca langsung oleh konsumen adalah tulisan pada kemasan produk.
Karena itu BPOM menilai bahwa kemasan harus mampu menyampaikan informasi penting secara jelas.
Informasi tersebut membantu konsumen memahami beberapa hal dasar, misalnya:
- jenis produk yang akan digunakan
- cara penggunaan yang tepat
- masa aman penggunaan produk
- pihak yang bertanggung jawab atas produk tersebut
Dengan kata lain, label pada kemasan menjadi jembatan komunikasi antara produsen dan konsumen.
Informasi Penting yang Harus Ada pada Kemasan Skincare
Agar kemasan skincare sesuai dengan regulasi yang berlaku, beberapa informasi dasar perlu dicantumkan pada label produk.
Baca juga : Jenis-Jenis Bahan Kemasan Kosmetik Yang Tepat
Nama Produk yang Tidak Menyesatkan
Nama produk merupakan bagian pertama yang dilihat oleh konsumen. Dalam aturan kosmetik, nama produk tidak boleh memberikan kesan bahwa produk tersebut adalah obat.
Istilah seperti “mengobati jerawat” atau “menghilangkan flek secara permanen” tidak diperbolehkan karena termasuk klaim medis.
Sebagai alternatif, banyak brand menggunakan kalimat yang lebih netral seperti “membantu merawat kulit” atau “membantu mencerahkan”.
Pendekatan ini membantu menghindari kesalahpahaman mengenai fungsi produk.
Nomor Notifikasi BPOM
Setelah produk memperoleh persetujuan, nomor notifikasi harus dicantumkan pada kemasan.
Nomor ini menunjukkan bahwa produk telah melalui proses evaluasi oleh BPOM dan diperbolehkan untuk diedarkan.
Agar mudah dikenali, nomor tersebut sebaiknya ditempatkan pada bagian kemasan yang mudah terlihat dan tidak tertutup elemen desain.
Identitas Perusahaan
Setiap produk kosmetik juga perlu mencantumkan identitas perusahaan yang bertanggung jawab atas produk tersebut.
Informasi ini biasanya berupa nama perusahaan dan alamat yang jelas.
Keberadaan Kemasan Skincare Sesuai Regulasi BPOM, informasi ini penting sebagai bentuk transparansi kepada konsumen.
Daftar Bahan Produk
Komposisi produk harus dicantumkan pada kemasan menggunakan standar penamaan internasional yang dikenal sebagai INCI (International Nomenclature of Cosmetic Ingredients).
Penggunaan standar ini membantu memastikan bahwa penamaan bahan konsisten dan dapat dipahami secara global.
Biasanya bahan dituliskan berdasarkan urutan konsentrasi dari yang paling tinggi hingga paling rendah.
Informasi Isi Produk
Kemasan juga harus mencantumkan jumlah isi produk.
Untuk produk cair biasanya menggunakan satuan mililiter (ml), sedangkan produk berbentuk krim atau gel menggunakan gram (g).
Informasi ini membantu konsumen mengetahui jumlah produk yang mereka beli.
Masa Penggunaan Produk
Setiap produk kosmetik memiliki masa penggunaan tertentu.
Informasi ini dapat dicantumkan dalam bentuk tanggal kedaluwarsa atau simbol PAO (Period After Opening) yang menunjukkan berapa lama produk aman digunakan setelah dibuka.
Petunjuk Penggunaan
Pada beberapa produk tertentu, terutama yang mengandung bahan aktif, petunjuk penggunaan sering dicantumkan agar konsumen memahami cara penggunaan yang benar.
Petunjuk sederhana seperti “hindari area mata” atau “gunakan sunscreen pada siang hari” dapat membantu mengurangi risiko kesalahan penggunaan.
Kesalahan yang Sering Terjadi pada Label Kemasan
Beberapa brand baru sering menghadapi masalah saat proses evaluasi karena kesalahan kecil pada desain kemasan.
Contoh yang cukup sering ditemukan antara lain:
- ukuran tulisan terlalu kecil
- informasi tertutup oleh elemen desain
- klaim produk yang berlebihan
- daftar bahan tidak menggunakan standar INCI
Kesalahan seperti ini dapat menyebabkan revisi pada label produk sebelum produk dapat diedarkan.
Pentingnya Menyusun Label Sejak Awal
Agar proses produksi berjalan lebih lancar, penyusunan informasi label sebaiknya dilakukan sejak tahap awal pengembangan produk.
Banyak brand memilih membuat konsep formula terlebih dahulu, kemudian menyusun draft label sesuai dengan regulasi yang berlaku sebelum mencetak kemasan secara massal.
Pendekatan ini membantu mengurangi risiko revisi setelah kemasan diproduksi.
Baca juga: Memilih Bahan yang Tepat untuk Kemasan Skincare Yang Meningkatkan Brand Anda
Penutup
Dalam bisnis skincare, kemasan memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar tampilan visual. Selain melindungi produk, kemasan juga berperan sebagai sumber informasi bagi konsumen.
Memastikan bahwa kemasan skincare sesuai dengan regulasi BPOM membantu brand menghindari kesalahan yang dapat berdampak pada proses distribusi maupun kepercayaan konsumen.
Dengan memahami aturan yang berlaku sejak awal, brand dapat mempersiapkan produk secara lebih matang sebelum memasuki pasar.
FAQ tentang Kemasan Skincare Sesuai Regulasi BPOM
Apakah kemasan boleh dicetak sebelum nomor BPOM keluar?
Desain awal dapat dibuat lebih dahulu, tetapi produksi massal sebaiknya menunggu persetujuan agar tidak perlu melakukan revisi kemasan.
Apakah semua informasi harus ada pada botol kecil?
Informasi utama tetap harus dicantumkan. Jika ruang terbatas, sebagian informasi tambahan dapat ditempatkan pada kemasan luar atau box produk.
Mengapa komposisi harus menggunakan nama INCI?
INCI merupakan standar internasional yang digunakan untuk penamaan bahan kosmetik agar lebih konsisten dan mudah dikenali.
Apakah klaim medis diperbolehkan pada kosmetik?
Tidak. Produk kosmetik tidak boleh mengklaim fungsi pengobatan karena hal tersebut termasuk kategori obat.
Apakah penggunaan bahasa Inggris diperbolehkan pada label?
Boleh, selama informasi tetap mudah dipahami oleh konsumen di Indonesia.



